PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perilaku agresif dikalangan remaja
bukan hanya isu, dapat dilihat disekeliling kita meskipun banyak anak yang
sebenarnya dapat ditangani orang tua dengan efektif jika saja mereka tahu
tentang cara yang tepat menghadapi anak. Akan tetapi ada banyak masalah yang
orang tua tidak boleh ikut campur, yang merupakan perfuse anak dan itu bisa
ditangani sendiri oleh anak tanpa melibatkan orang tua.
Bertolak dari kondisi-kondisi
tersebut diatas, peranan pengasuhan keluarga dalam mendidik serta membimbing
(memberi pandangan-pandangan dan pengertian-pengertian) pada anak dalam
keluarga sangatlah penting. Karena dalam keluarga seorang anak mula-mula
mendapat bimbingan dan pendidikan dari keluarganya terutama oaring tuanya.
Orang tua adalah guru atau pendidik utama dalam keluaraga yang sangat berperan
dalam menumbuh kembangkan kekuatan mental, fisik, rohani mereka. Ironisnya,
ytidak jarang orang tua yang mulai beranggapan bahwa kalau anak-anaknya sudah
diserahkan disekolah maka selesailah tugas orangtuanya sehingga para orang tua
hanya sibuk dengan kepentingan mencari uang atau materi smata, tanpa memahami
kepentinga kedekatannya dengan anakanya secara psikologis.
Keluarga adalah tempat perkembangan
awal seorang anak, sejak saat kelahirannya sampai perkembangan jasmani dan
rohani. Bagi seorang anak, keluarga memiliki arti dan fungsi yang vital bagi
kelangsungan hidup maupun dalam menemukan makna dan tujuan hidupnya. Keluarga
merupakan dunia keakraban seorang anak, sebab dalam keluargalah dia
pertama-tama mengalami hubungan dengan manusia dan memperoleh representasi dari
dunia sekelilingnya. Pengalaman hubungan dalam keluarga tersebut makin
mengakrabkan seorang anak dengan lingkungan keluarga. Keluarga menjadi dunia
didalam batinya. Keluarga bukan menjadi realitas diluar seorang anak tetapi
menjadi bagian kehidupan diluar pribadinya. Karena didalam keluarganya, dia
menemukan arti dan fungsinya, maka dia makin mempertalikan dirinya ddengan anggota keluarga dan kehidupannya. Sebab
keluarga bukan lagi suatu dunia yang asing, keakraban seorang anak
diperlihatkandengan ekspresi dirinya yang tidak menyebut rumahnya dengan rumah
itu tetapi dengan rumahku, mejaku, bukuku dan sebagainya (Y. Bambang Mulyono,
1988:40-41)
Seperti yang telah kita ketahui arti
dan fungsi keluarga adalah memberi pengayoman sehingga menjamin rasa aman, maka
dalam masa krisisnya anak sungguh-sungguh membutuhkan realisasi fungsi
keluarganya.
Dengan demikian peran pengasuhan
keluarga dituntut secara konsisten untuk memberikan kesempatan pada anak-anakny
adalam menyelesaikan seua persoalanya sebelum memberikan pemecahan yngsudah
dipersiapkan oleh para orang tua. Bilamana pola pengsuhan dalam keluarga
mampu menyeimbangkan antara kedisiplinan
dan kebebasan, sehingga akan berkembang rasa percaya diri, bertanggung jawab,
kooperatif, dan kemadirian dalam diri anak tersebut.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan dalam penelitian ini
adalah apakah ada pengaruh pola
pengasuhan dalam keluarga terhadap perilaku agresif anak.
C . Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pola pengasuhan dalam keluarga terhadap perilaku
agresif anak.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Secara Teoritis
hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan
sebagai bahan masukan dalam mengembangkan bidang ilmu psikologi, khususnya
Psikologi Perkembangan.
2.
Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan
bagi keluarga khususnya para orangtua, sehingga dapat bersikap lebih positif
dalam menerapkan pola pengasuhan terhadap anak.
PENGARUH POLA ASUH DALAM
KELUARGA
TERHADAP PERILAKU AGRESIF
ANAK
1. TINJAUAN
PUSTAKA
A. pola
pengasuhan keluarga
a. pengertian pola pengasuhan keluarga
Keluarga adalah suatu system yang
terdiri atas individu-individu yang berinteraksi yang saling bersosialisasi dan
saling mengatur. Keluarga tentu saja tidak hanya terdiri atas orang tua dengan
anak-anak kecil. Kehidupan keluarga juga meliputi orang yang berusia setengah
baya dan pasangan yang berusia lanjut (kakek & nenek) serta saudara dari
ayah dan dari ibu.
Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Depkes RI, 1998).
Pola pengasuhan dalam keluarga bisa
diartikan juga yaitu cara-cara yang
dilakukan sebuah keluarga untuk memberikan landasan perilaku kepada anak,
dimana itu akan terbina dalam pertumbuhan sosial dan emosional. Semua itu bisa
diberikan dan diajarkan oleh orang-orang terdekat dalam keluarga, terutama
kedua orang tua. Ibu dan Ayah merupakan seseorang yang berperan penting dalam
perkembangan sikap positif dan negatif anak.
Sosok ibu dalam pengasuhan sangat
berpengaruh. Menurut Swick & Manning (1983) para ibu memerlukan
metode-metode pengasuhan, yang bisa membantu
pembentukan perilaku anak. Salah satunya sebagai berikut; program komunikasi
yang epektif dengan anak, Srelasi yang hangat dengan anak, hrapan-harapan
positif untuk anak berkreasi, penerapan disiplin yang berdasarkan peraturan dan
bukan berdasarkan kekuasaan. Keterlibatan ayah terhadap perilaku anak juga
dapat membangun sikap-sikap positif terhadap perilaku anak.
Orang tua pastinya tidak ingin
anak-anaknya tumbuh menjadi seseorang yang tidak dewasa secara social maupun
emosional. Mereka mungkin frustasi dalam mencoba menemukan cara terbaik untuk
mendapatkan metode-metode itu. Menurut Baumrid (1971:2) para orang tua menghukum anak atau
mengucilkannya hanya karena anak membuat kesalahan yang sebenarnya bisa
diatasi. Tetapi sebagai gantinya orang tua harus mengembangkan aturan-aturan
bagi anak-anak dan mencurahkan kasih saying kepada mereka.
b. Pola pengasuahan dalam keluarga
1.
Menerapkan dasar-dasar agama
2.
Mengajarkan nilai-nilai moral
a. Disiplin berlebihan
Disiplin berlebihan adalah pola asuh
yang memakai hokum untuk mebatasi ruang gerak anak secara berlebihan untuk
berekspresi sebagaimana mestinya. Dengan mematuhi peraturan-peraturan yang
dibuat oleh keluarga tersebut. Anak yang diperlakukan seperti itu seringkali
cemas akan perbandingan social, gagal memprakarsai kegiatan, dan memiliki
keterampilan komunikasi rendah. Karena disiplin awal yang diterimanya terlalu
keras diyakini bisa membentuk kepribadian negative pada anak, termasuk
agresifitas, karena semakin dikekang rasa ingin memberontak bisa saja terjadi,
dengan meniru cara orang tuanya, agresifitas itu pun meningkat.
b. disiplin seimbang dengan kebebasan
disiplin simbang dengan kebebasan
anak adalah pengasuhan yang menuntut anak untuk bersikap mandiri dengan cara
memberikan kebebasan ruang gerak untuk berekspresi sebagaiman mestinya, akan
tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian perilaku-perilaku anak
dalam batas semestinya.
Pola pengasuhan ini diyakini bisa
membentuk kepribadian yang baik pada anak. Anak-anak menjadi percaya diri dan
bertanggung jawab secara social maupun emosional.
c. kebebasan berlebihan
kebebasan berlebihan dalam keluarga
adalah gaya
asuh yang sangat membebaskan anak dalam berekspresi tanpa ada batasan-batasan
tertentu didalamnya, dan tidak ada campur tangan keluarga sedikitpun.
Keluarga kontenporer merupakan
keluarga diman orang tua lebih banyak diluar ruamah dari pada berada dirumah
bersama anaknya. Sementara pada waktu yang sama anak sangat membutuhkannya.
Dengan banyaknya orang tua yang pergi pagi pulang malam, orang tua yang urang
meluangkan waktu dengan anak-anaknya . kualitas pengasuhan anak yang jadi
memperihatinkan bagi banyak orang, kekawatiran itu bertambah ketika anak
mencari kehanyatan diluar rumah, bergaul tanpa batas dan tanpa aturan yang
jelas. Bagaimana anak-anak dipengaruhi oleh tidak adanya pengawasan selama
berjam-jam setiap hari setelah sekolah (Lamb, 1994: Lewcner & Abrams,
1993:MCartney, dkk, 1993).
Komentar
Posting Komentar