B. Perilaku
agresif anak
a. Pengertian perilaku agresif
Menurut Aronson ( Koeswara, 1988),
mengajukan definisi perilaku agresif sebagai tingkah laku yang dijalankan oleh
individu dengan maksud untuk melukai ataupun tanpa tujuan tertentu. Sedangkan
Moore dkk (dalam Koeswara, 1988) juga menjelaskan perilaku agresif sebagai
tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap individu
lain atau terhadap objek-objeknya.
Agresivitas merupakan refleksi
emosional seorang anak. Anak merasa puas melakukan tindakan kasar tertentu
untuk mencapai keinginan.
Scheneiders (1955), ia mengatakan
bahwa agresif merupakan luapan emosi sebagai reaksi
terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan
terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan
yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non verbal.
Agresif menurut Baron (dalam Koeswara,1988) adalah tingkah laku yang ditunjukkan untuk melukai dan mencelakakan
individu lain yang tidak menginginkan datangya tingkah laku tersebut.
Perilaku agresif menurut David O. Sars (1985) adalah setiap perilkau yang bertujuan menyakiti orang lain, dapat juga ditujukan kepada perasaan ingin menyakiti orang lain dalam diri seseorang.
Menurut Abidin (2005) agresif mempunyai
beberapa karakteristik. Karakteristik yang pertama, agresif merupakan tingkah
laku yang bersifat membahayakan, menyakitkan, dan melukai orang lain.
Karakteristik yang kedua, agresif merupakan suatu tingkah laku yang dilakukan
seseorang dengan maksud untuk melukai, menyakiti, dan membahayakan orang lain
atau dengan kata lain dilakukan dengan sengaja. Karakteristik yang ketiga,
agresi tidak hanya dilakukan untuk melukai korban secara fisik, tetapi juga
secara psikis. (psikologis.).misalnya melalui kegiatan yang menghina atu
menyalahkan.
Agresif menurut Moore dan Fine (dalam
Koeswara, 1998) perilaku agresif adalah tingkah laku kekerasan secara fisik
ataupun secara verbal terhadap individu lain atau objek-objek lain.
Agresif menurut Murry (dalam Halll dan
Lindzey,1993) didefinisiakan
sebagi suatui cara untuk melawan
dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya
agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang
lain atau merusak milik orang lain. Hal yang terjadi
pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresif dari seorang individu atau kelompok.
Faktor-faktor yang mendalangi
terjadinya perilkau agresif ;
Pemicu terjadinya perilaku agresif
dapat disebabkan karena anak mengalami pressure, akibat tindakan-tindakan
agresif yang dilakukan orang tua. Pemicu perilaku agresif lainnya adalah faktor
social modeling.
Perilaku agresif yang dilakukan
seorang anak perlu ditangani secara serius, agar tidak berdampak terhadap
perkembangan kepribadian anak. Pendidik harus menentukan dan menemukan
tindakan-tindakan yang efektif guna mengatasi perilaku agresif anak. Usia TK A
(4-5 tahun) merupakan usia yang selalu mengundang masalah terutama pada
perilaku anak (Hurlock, 1991).
disebabkan oleh beberapa faktor seperti
frustasi terhadap tindakan agresif ayah, sikap ibu yang terlalu ?over
protective? terhadap kasus, proses belajar mengajar guru di TK, serta ?social
modeling?. Guna meminimalkan perilaku agresif ?kasus?, wali kelas mencari
informasi dari orang tua mengenai kepribadian ?kasus?. Informasi yang diterima
dari orang tua, dapat dimanfaatkan untuk ditentukan tindakan-tindakan efektif
agar agresivitas kasus diminimalkan.
Secara umum faktor
yang mempengaruhi perilaku agresif tersebut menurut Koeswara (1988) adalah
frustrasi, stress, deindividuasi, kekuasaan dan kepatuhan, kehadiran senjata,
provokasi, obat-obatan dan alkohol, dan suhu udara. Dari hasil penelitian ini
faktor-faktor penyebab perilaku agresi menurut Koeswara (1988) yang sangat
berpengaruh pada diri subjek adalah faktor frustrasi, stress, provokasi dan
suhu udara sehingga memicu perilaku agresif subjek secara fisik maupun verbal
baik saat subjek berada di jalan raya maupun di saat balap
- Faktor penyebab perilaku
ageresi remaja
Menurut Sears, Taylor
dan Peplau (1997), perilaku agresif remaja disrbabkab oleh dua faktor
utama yaitu adanya serangan serta frustasi. Serangan merupakan salah satu faktor
yang paling sering menjadi penyebab agresif dan muncul dalam bentuk
serangan verbal atau serangan fisik. Faktor penyebab agresi selanjutnya adalah
frustasi. Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam
mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan
tertentu.
Menurut Berkowitz (2003) dalam bukunya
yang berjudul emosional behavior menyatakan bahwa adanya persaungan atau
kompetisi juga dapat menjadi penyebab munculnya perilaku agresif remaja.
Menurut Koeswara (1998), faktor penyebab
remaja berperilaku agresif bermacam-macam, sehingga dapat dikelompokkan menjadi
faktor sosial, faktor lingkungan, faktor situasional, faktor hormon, alkohol,
obat-obatan (faktor yang berasal dari luar individu ) dan sifat kepribadian
(faktor-faktor yang berasal dari dalam individu), yaitu :
a.
Penyebab sosial
1.
Frustasi
Yakni suatu
situasi yang menghambat individu dalam usaha mencapai tujuan tertentu yang diinginkannya, dari frustasi maka kan timbul perasaan-perasaan agresif
2.
Profokasi
Yaitu oleh pelaku agresi profokasi dilihat sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan respon agersif untuk meniadakan bahaya yang diisaratkan oleh ancaman tersebut.
3.
Melihat model-model agresif
Film dan TV dengan
kekerasan dapat menimbulkjan agresi pada seorang anak,
makin banyak menonton kekerasandalam acara TV makin besar tingkat agresif
merekka terhadap orang lain, makin lama mereka menonton,makin
kuat hubungannya tersebut.
b.
Penyebab dari lingkungan
1.
Polusi Udara, bau busuk dan kebisingan
dilaporkan dapat menimbulkan perilaku agresi tetapi tiodak
selalu demikian tergantung dari berbagai faktor lain.
2.
Kesesakan (crowding), meningkatkan kemungkinan untuk perilaku agresif terutama bila sering
timbul kejengkelan, iritasi, dan frustasi
karenanya.
c.
Penyebab situasional
1.
Bangkitan seksual yaitu
film porno yang “ringan“
dapat mengurangi tingkat agresif, film porno yang
“keras” dapat menambah agresif.
2.
Rasa nyeri dapat menimbulkan dorongan agresi yaitu untuk melikai
atau mencelakakan orang lain. Dorongan itu kemudian dapat
tertuju kepada sasaran apa saja
yang ada.
d.
Alkohol dan obat-obatan
Ada petunjuk bahwa agresi berhubungan
dengan kadar alkhohol dan obat-obatan. Subyek yang menerima alkohol dalam
takara-takaran yang tinggi menunjukkan taraf agresifitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan subjek yang tidak menerima alkhohol atau menerima alkhohol
dalam taraf yang rendah. Alkhohol dapat melemahkan kendali diri peminumnya,
sehingga taraf agresifitas juga tinggi.
e.
Sifat
kepri badian
Menurut Baron ( dalam Koeswara, 1988 ) setiap individu akan berbeda dalam
cara menentukan dirinya untuk mendekati
atau menjauhi perilaku agresif. Ada beberapa ynag memiliki sifat karakteristik yang berortientasi untuk menjauhkan diri dari pelanggaran-pelanggaran.
Menurut David O Sears 1985 meyebutakan faktor penentu perilaku agresif yang utama adalah rasa
marah dan proses belajar respon agresif. Proses belejar ini bisa terjadi
langsung terhadap respon agresif atau melalui imitasi.
Menurut Davidoff perilaku agresif remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor
:
1.
Faktor biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi
perilaku agresif yaitu:
a.
Gen
Gen tampakya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresif.
b.
Sistem otak
Sistem otak yang tidak terlibat dalam agersi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit netral yang mengendalikan agresi.
c.
Kimia
darah
Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi.
2.
Faktor lingkungan
Yang mempengaruhi perilaku agresif remaja yaitu
:
a.
Kemiskinan
Remaja yang besar dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan. Hal yang sangat menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonimi dan moneter menyebabkan pembengklakan kemskinan yang semakin tidak terkendali.
Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar.
b.
Anoniomitas
Terlalu banyak ranbgsangan indra dan kognitif
membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan
orang lain tidal lagi saling mengenal. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identiras diri). Jika seseorang merasa anonim ia cenderung
berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak terikkat dengan norma
masyarakat da kurang bersimpati dengan orang lain.
c.
Suhu udara yang panas
Suhu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresifitas.
3.
Kesenjangan generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi antara orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak.
4.
Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki cirri-ciri aktifitas system saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan akarena adanya kesalahan yang muingkin nyata-nyata salah atau mungkin tidak (Davidoff, Psikologi Suatu Pengantar, 1991). Pada saat amrah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresif.
5.
Peran
belajar model kekerasan
Model pahlawan-pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal bisa menjadikan
penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan
hal yang menyenangkan dan dapat dijadikan
suatu sistem nilai bagi dirinya.
Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hali ini
menjadi sangat efektif untuk terciptanya
perilaku agresif.
6.
Frustasi
Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh ssesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara merespon
terhadap frustasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat
dari frustasi yang behubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya
kebutuhan yang harus segera tepenuhi tetapi sulit sekali
tercap[ai. Akibatnya mereka
menjadi mudah marah dan berprilaku agresi.
7.
Proses pendisiplinan yang keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan
disiplin seperti akn membuat remaja
menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang
lain, membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta kehilangan inisiatif dan pada
akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada
orang lain.
Ciri-ciri prilaku agresif :
Berdasarkan hasil penelitian,
peneliti dapat menyimpulkan bahwa anak agresif selalu menunjukkan ciri-ciri,
yaitu melakukan tindakan-tindakan agresif agar tujuan tercapai, menunjukkan
perilaku agresif melalui berbagai bentuk verbal maupun non verbal. Perilaku
agresif verbal seperti mengejek teman dan non verbal seperti memukul,
menendang. Apabila anak berhasil mencapai tujuan dengan melakukan tindakan
agresif, maka anak akan mengulangi tindakan tersebut. Perilaku agresif yang
tidak ditangani secara serius dapat mengarah pada ?conduct disorder? (gangguan
perilaku). Jadi, anak menunjukkan perilaku agresif untuk mewujudkan keinginan
yang tidak dapat disalurkan karena mengalami tekanan-tekanan lingkungan sosial.
selalu menjaga citra, dan
berorientasi apa kata orang terhadap mereka. Kepribadian mereka mengacu kepada
emosi, perasaan, citra dan penerimaan.
suka membela diri, kepribadiannya
mengacu pada fisik, naluri dan penghargaan.
Macam-macam perilaku agresif anak :
Anak seringkali menunjukkan perilaku agresif, baik secara verbal
maupun non verbal. Contoh perilaku agresif secara verbal seperti mengejek teman
dengan kata-kata kasar, non verbal seperti memukul,
mencubit dan menendang teman. Tujuan peneliti mengadakan penelitian adalah untuk
Sedangkan menurut Buss (dalam Morgan dkk. 1986) perilaku agresi bisa berupa verbal dan fisik, aktif dan pasif, langsung dan tidak langsung. Perbedaan antara verbal dan fisik adalah antara menyakiti secara fisik dan menyerang dengan kata-kata; aktif atau pasif membedakan antara tindakan yang terlihat dengan kegagalan dalam bertindak; perilaku agresi langsung berarti melakukan kontak langsung dengan korban yang diserang, sedangkan perilaku agresi tidak langsung dilakukan tanpa adanya kontak langsung dengan korban .
mencubit dan menendang teman. Tujuan peneliti mengadakan penelitian adalah untuk
Sedangkan menurut Buss (dalam Morgan dkk. 1986) perilaku agresi bisa berupa verbal dan fisik, aktif dan pasif, langsung dan tidak langsung. Perbedaan antara verbal dan fisik adalah antara menyakiti secara fisik dan menyerang dengan kata-kata; aktif atau pasif membedakan antara tindakan yang terlihat dengan kegagalan dalam bertindak; perilaku agresi langsung berarti melakukan kontak langsung dengan korban yang diserang, sedangkan perilaku agresi tidak langsung dilakukan tanpa adanya kontak langsung dengan korban .
BentkSedangkan Bandura (dalam Morgan dkk 1986)
mengatakan teori belajar sosial menekankan peran imitasi terhadap perilaku
orang lain sebagai penyebab agresi. Orang yang baru saja melihat orang lain
bertindak agresif cenderung melakukan hal yang sama pada situasi yang mirip
Sears dkk (1994) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
perilaku agresi, antara lain: Proses belajar, Penguatan (reinforcement),
Imitasi, Norma sosial.
Hal yang umum yang telah diketahui penyebab dari agresi
adalah frustasi, frustasi terjadi ketika perilaku yang dimotivasi dihalangi,
atau ditutup, sehingga tujuan itu tidak dapat dicapai (Dollar, dkk. dalam
Morgan dkk. 1986). Bentuk yang kuat dari hipotesa frustasi-agresi seperti yang
baru saja disebutkan, yang menyatakan bahwa frustasi selalu saja menghasikan
perilaku agresi dan semua perilaku agresi selalu disebabkan oleh frustasi.
·
percaya diri
·
tanggung jawab
·
hiperaktif
·
penakut
·
gampang putus asa
·
pemalu
·
agresif
b. faktor-faktor timbulnya perilaku-perilaku tersebut :
·
Pola asuh
·
Individu
·
Lingkungan
Komentar
Posting Komentar